PGP 4-Kabupaten Nganjuk-Devi Maya Gustina-3.3.Aksi Nyata

 3.3.a.10 Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid


Program Tewiru ( Terampil Wira Usaha )

by: Devi Maya Gustina - CGP Angk.4 Kab.Nganjuk


1. LATAR BELAKANG

        Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Menurut filosofi Ki Hajar Dewantara tersebut, sebagai pendidik kita harus menuntun kodrat anak sesuai dengan kodrat alam dan zaman. Dalam hal ini, kita perlu mengembangkan life skills untuk bekal hidup kedepannya. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan jiwa kewirausahaan. Mengapa wirausaha? Karena tidak semua anak-anak kita kelak mampu menjalani pendidikan tinggi yang layak. Diharapkan mereka mampu berwirausaha menciptakan lapangan kerja sendiri.
        Selain itu, murid kita yang merupakan generasi penerus perlu dilatih untuk mandiri dan berkarya menciptakan sesuatu yang berdaya guna dan bermanfaat khususnya bagi dirinya sendiri, orang lain dan masyarakat. Karya inovatif terapan diharapkan terus muncul demi kehidupan dan kemajuan bangsa Indonesia.
      Program Tewiru adalah akronim dari Terampil Wira Usaha. Program ini sarat dengan kepemimpinan murid. Dalam program ini voice (suara) murid sangat diperhatikan, terdapat sesi curah pendapat dari murid terkait bagaimana mekanisme program dijalankan dan impian mereka. Choice (pilihan) terlihat pada pilihan opsi produk yang akan dibuat dalam 1 kali proyek. Sedangkan ownership (kepemilikan) tergambar jelas dengan pemberian label yang tertera pembuat karya dalam setiap karya/produk yang dibuat.
        Program ini sangat tepat dijalankan mengingat konteks program yang sebisa mungkin memberdayakan barang bekas dalam membuat produk. Walaupun tidak semua produk memanfaatkan barang bekas, namun sebisa mungkin menggunakan budget yang kecil untuk memproduksi barang berdaya guna. Program ini didukung dengan berbgai aset yang dimiliki sekolah hasil dari pemetaan aset. Yaitu dukungan penuh kepala sekolah, ada 4 guru yang memiliki kemampuan dan ketrampilan membuat seni terapan serta produk yang berdaya guna. Dan aset utama adalah murid yang memiliki kemauan dan motivasi selalu ingin berkembang.Beberapa wali murid yang berwirausaha dan bisa diundang sebagai narasumber. halaman yang luas, bisa dimanfaatkan sebagai kebun apotek hidup untuk menghasilkan produk herbal. Peralatan memasak lengkap di sekolah yang bisa digunakan untuk demo tutorial membuat produk makanan. Dan barang bekas serta bahan lain untuk membuat hasta karya tersedia di sekitar lingkungan sekolah.
Keinginan/ minat murid untuk mengikuti program ini tinggi. Terlihat dari hasil survey yang diberikan kepada murid di awal persiapan program. Selain itu, wali murid pun mendukung penuh program ini terlihat saat sesi curah pendapat dengan wali murid. Semoga partisipasi dan kolaborasi dari semua pihak yang terlibat menunjukkan perkembangan yang baik di sepanjang program sehingga program bisa berjalan dengan optimal.

 

          2. PROSES  JALANNYA   AKSI NYATA

2.1 Jenis Kegiatan

  • Ko-kurikuler
  • Karakter lingkungan  pendukung tumbuh kembangnya kepemimpinan murid yang akan dikembangkan: Lingkungan yang mengembangkan ketrampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana.

 2.2 Tujuan dan Capaian Kegiatan 

Tujuan : Mewujudkan murid yang memiliki jiwa kewirausahaan, kreatif dan mampu membaca peluang untuk menghasilkan produk berdaya guna dalam kehidupan sehari-hari. 

 2.2.1. Capaian:Tahap perencanaan berjalan dengan baik

Langkah-langkah :
Memberikan survey pada murid dan wali murid
Pemetaan aset
Koordinasi dengan KS dan teman sejawat
Rapat dinas (KS, guru, wakil walmur, wakil murid
Pembentukan tim Tewiru
Pembahasan sistematik program
 

 2.2.2. Capaian: Tahap pelaksanaan berjalan dengan baik

Langkah-langkah :
Penentuan produk yang dibuat
Belanja bahan oleh tim Tewiru
Pemberian bahan ke setiap kelompok proyek
Pembinaan
Giat proyek

2.2.3. Capaian: Tahap refleksi dan evaluasi berjalan dengan baik
Langkah-langkah :
Memberikan survey pada murid dan wali murid
Memberikan lembar refleksi murid
Rapat refleksi dan evaluasi berdasar data yang telah diambil
Penyusunan rencana tindak lanjut

2.3. Skala Program

Sebagai model, program ini ditujukan untuk kelas tinggi yaitu siswa kelas IV dan kelas V. Tidak menutup kemungkinan kedepannya bisa mencangkup semua kelas. Setiap kelas dibagai beberapa kelompok project. setiap kelompok memiliki ketua kelompok yang nantinya berkoordinasi dengan ketua project kelas, yang dipilih oleh murid sendiri. Dalam tugasnya ketua project kelas dibantu oleh wali kelas.

 2.4. Pengaturan Program

Program ini memiliki SK Tim Tewiru yang terdiri dari kolaborasi guru dan murid. Terdapat pembagian tugas yang jelas.

Setiap project memiliki waktu 1 bulan. Sesuai motto Tewiru 1 bulan 1 karya.
Setiap project ada 1 minggu sesi pembinaan (minggu ke - 1), 2 minggu sesi berkarya (minggu ke- 2 dan ke-3) dan 1 minggu sesi refleksi dan evaluasi (minggu ke-4). 

Pada sesi pembinaan, tim menyiapkan bahan dan materi untuk project. Pembinaan dilakukan bisa  di dalam kelas atau di luar kelas sesuai kebutuhan, yaitu pada jam istirahat. Untuk sesi pengerjaan project, dilakukan di sekolah atau di rumah sesuai dengan kesepakatan. Jika memang di sekolah tidak memungkinkan, maka 100 % proyek dikerjakan di rumah. Jika bisa dikerjakan 100 % di sekolah maka dikerjakan di sekolah. Bisa juga 50% di sekolah dan 50% di rumah. Jadi tempat pengerjaan optional sesuai dengan kebutuhan. 

Guru kelas dan guru yang bergabung dalam tim, melakukan pemantuan dan pembimbingan saat project dikerjakan oleh murid.  Guru hanya sebagai fasilitator, semua ide, proses, dan finishing adalah mutlak tangung jawab murid.

2.5. Mitra

Wali murid yang bisa dijadikan narasumber. selain itu guru atau tendik yang memiliki ide produk bisa menjadi narasumber tetap.

2.6. Kapasitas Sumber Daya yang Dimiliki

          Aset Manusia

Ada 4 guru yang memiliki ketrampilan seni seperti membuat kerajinan seni terapan, melukis, memasak, menjahit. Guru yang lain pun bisa mengisi pembinaan jika produk proyek yang dipilih murid sesuai dengan kemampuan mereka. Beberapa wali murid bisa dijadikan narsum.

 Aset Fisik

Terdapat perangkat lengkap memasak di sekolah. Terdapat beberapa alat jahit yang bisa digunakan untuk praktek menyulam, rajut dan menjahit tangan (manual).

  Aset Sosial

Hubungan yang baik antar komponen sekolah, sekolah dengan wali murid, sekolah dengan masyarakat sekitar akan menunjang terlaksananya program sehingga berjalan dengan baik.

  Aset Finansial

Jika skala proyek kecil, pendanaan ditanggung dana kelas. Jika skala proyek besar, pendanaan ditanggung dana kelas dan BOS

            Aset Lingkungan Alam

 Terdapat banyak bahan alam, barang bekas di sekitar sekolah yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan karya seni. 

  Aset Lingkungan  Agama dan Budaya

 Lingkungan yang agamis dan budaya gotong royong mendorong murid untuk kolaborasi, saling mengisi, kerja sama serta tanggung jawab terhadap tugas proyek.

 

          3. DAMPAK  YANG  DIDAPATKAN  SETELAH  PROGRAM  DIJALANKAN 

           Setelah program ini dijalankan selama 1 bulan dengan 1 proyek yaitu membuat batik ikat celup, murid merasa senang dan antusias mengikuti proyek tewiru berikutnya. Hal ini tentunya berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa dan hasil dari angket. Murid merasa diperhatikan pendapat dan keinginannya. Mereka merasa senang,bebas berkarya sesuai dengan bakat dan minat mereka. Adapun rencana karya 6 bulan ke depan di tahun 2022 berdasarkan kesepakatan murid adalah:

  •  Juli            : membuat jamu kunir asam dengan memanfaatkan hasil kebun Toga sekolah
  • Agustus      : hiasan perayaan hari kemerdekaan
  • September  : pouch dari kain flanel
  • Oktober      : kemoceng dari tali rafia
  • November  : praktek membuat kue apem
  • Desember   : membuat hiasan dinding dengan bahan utama benang

                   4. REFLEKSI AKSI NYATA

        Dalam refleksi ini saya menggunakan model 4f yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway, yang terdiri dari Fact, Fellings, Findings, dan Future.

         Aksi nyata pada modul ini adalah aksi bagaimana membuat program yang berdampak pada murid. Yang mana memperhatikan voice, choice dan ownership dari murid. Program yang dikembangkan dari, oleh dan untuk murid. Sesuai dengan filosofi Ki Hajar yang menyebutkan bahwa anak bukanlah tabularasa. Anak bukanlah kertas kosong, yang bisa kita berikan goresan sesuka kita. Anak sudah memiliki goresan tipis dan kita sebagai pendidik harus mampu menebalkan goresan yang baik dan menghapus goresan yang tidak baik. Setiap anak memiliki bakat dan minat, maka sangat perlu untuk mengetahui kebutuhan belajar anak. Sehingga guru bisa menyusun rancangan pembelajaran yang bisa mengcover kebutuhan muridnya. 

        Pada awalnya saya merasa ragu, perasaan saya bimbang, apakah program ini bisa berjalan di sekolah saya. Tapi saya yakin, dengan dukungan dari berbagai pihak dan dengan pemetaan aset program ini bisa berjalan sesuai dengan ekspektasi. Karena, kepemimpinan murid bisa terbentuk, tinggal bagaimana seorang guru memposisikan dirinya dan  rangkaian kegiatan/ program dirancang sedemikian rupa sehingga suara, pilihan serta kepemilikan murid bisa tercover. Hal baik dari aksi nyata yang telah saya laksanakan adalah ketiga faktor kepemimpinan murid sangat kental di setiap tahapan program. Mereka diajak diskusi, urun rembug, bagaimana program ini baiknya dijalankan. Akhirnya sampai pada pilihan proyek, mereka sendiri juga yang menentukan. Setiap produk yang dihasilkan diberi labelling nama siswa, hal ini untuk membentuk rasa kepemilikan dan kebanggaan karena sudah berhasil membuat produk. Yang mana hal ini dapat memicu motivasi internal dalam diri mereka untuk terus mengahsilkan karya. Hambatan dalam aksi nyata ini adalah belum terbiasanya murid-murid dan rekan sejawat (guru) untuk bersama-sama saling berkolaborasi dalam suatu program yang tergolong baru. Perlu penyesuaian. Yang semula, kegiatan murni dari arahan guru, akan tetapi sekarang disesuaikan dengan kebutuhan murid dan benar-benar memperhatikan suara, pilihan dan kepemilikan murid.

          Pelajaran yang bisa saya ambil dari aksi nyata yang telah saya lakukan adalah bahwa di setiap kegiatan yang kita lakukan, kita harus mindfulness, fokus pada tujuan. Dan kolaborasi adalah suatu yang penting, Bekerja bersama-sama dengan visi dan misi yang sama. Kompetensi Sosial Emosional (KSE) teruji disini, bagaimana kita harus bersikap, bagaimana caranya membangun relasi, bagaimana bersosialisasi, bagaimana cara kita menggerakkan orang lain. 9 langkah pengambilan keputusan juga diperlukan dalam aksi nyata ini, tentu saja berdasarkan prinsip pengambilan keputusan. Penerapan budaya positif, bagaimana kita berlaku sebagai manajer juga memiliki andil yang besar ketika saya menjalankan program ini. Hal baru yang baru saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini adalah semangat saya, motivasi internal membangun diri saya agar menepis kekhawatiran menjadi sebuah kekuatan untuk menghadirkan diri saya secara utuh dan mengaktualisasikan ilmu yang saya peroleh dalam pendidikan guru penggerak sehingga  program ini bisa berjalan sesuai harapan.

         Berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi, rencana ke depannya adalah membentuk kas kelas khusus Tewiru, sehingga kesediaan dana tidak akan mengganggu jalannya program. Selain itu, perlu membentuk paguyuban wali murid, sehingga memudahkan dalam koordinasi. Dengan adanya Tewiru yang berkelanjutan, saya berharap agar pendidikan yang memberi tuntunan pada anak bisa seimbang, baik olah rasa, olah pikir, olah karsa dan olah raga. Pendidikan yang bisa memberikan bekal hidup dan penghidupan, menyiapkan anak untuk hidup bermasyarakat.

 

5. DOKUMENTASI

      5.1.Tahap Perencanaan

    Foto 1. Koordinasi dengan kepala sekolah terkait program yang akan dijalankan (Tewiru).



  Foto 2. Koordinasi dengan rekan sejawat terkait program yang akan dijalankan.

                                   


 Foto 3. Urun rembug bersama murid (sasaran program Tewiru)


 Foto 4. Pemetaan aset


Foto 5. Giat pembinaan


 Foto 6. Kegiatan pembuatan batik ikat celup

      

            





Foto 7. Hasil karya



Foto 7. evaluasi dan refleksi

Evaluasi dan refleksi dengan murid yang menjadi tim Tewiru



                                       

Evaluasi dan refleksi bersama rekan sejawat tim Tewiru




Evaluasi dan Refleksi dengan kepala sekolah bersama PP











 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Buadaya Positif di SD negeri 1 Sonoageng Kabupaten Nganjuk