3.1.a.9_Koneksi Antar Materi_Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran_Devi Maya Gustina

 by : Devi Maya Gustina

Nganjuk - Kelas 54-B

dengan fasilitator : Kandung Supriyono

dan pengajar praktik : Agus Mardiwasono


" Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga /utama adalah yang terbaik"

(Teaching kids to count is fine but teaching them whats counts is best)

    Kutipan di atas menyadarkan kita bahwa membelajarkan anak tidak hanya cukup dari segi pengetahuan (mengolah IQ) saja melainkan dari sisi EQ. Dalam kehidupan sosial, orang yang pintar belum tentu bermanfaat, semisal memanfaatkan kepandaiannya untuk membuat bom dan melakukan terorisme. Akan tetapi yang dibutuhkan adalah orang yang bermanfaat bagi sekitar. Apalagi memanfaatkan kepandaiannya untuk berinovasi yang positif. Tidak cukup mengajarkan 2 + 5 sama dengan 7. Karena 2+5 bisa jadi hasilnya 10-3. dalam kehidupan banyak sekali permasalahan yang menuntut adanya pemikiran mendalam. Sehingga solusi dan keputusan yang diambil benar-benar tepat dan tidak merugikan orang lain.

    Nilai-nilai kebajikan seperti kejujuran, keadilan, empati, tidak merendahkan orang lain dan lainnya yang kita anut sangat mempengaruhi  dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, pembelajaran kompetensi sosial emosional (KSE) di tingkat sekolah sangatlah penting dilakukan. Apalagi merekalah generasi penerus, calon- calon pemimpin di masa depan.

    Pengambilan keputusan guru atas muridnya sangat mempengaruhi tumbuh kembang mereka dalam  menebalkan garis yang mereka miliki. Sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

    Berikut pertanyaan dan jawaban terkait modul 3.1 tentang pengambilan keputusan pemimpin pembelajaran:

1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

 Kita mengetahui bahwa Pratap Triloka (Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani) sebagai tuntunan filosofis pendidik Indonesia untuk terus mengajar dan membimbing siswa sesuai kodrat alam dan zamannya agar ia menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang bermanfaat yang kaya akan pengetahuan dan juga memiliki karakter yang baik. Peran guru sangatlah penting, selain ia harus menjadi role model bagi muridnya, ia harus mampu menempatkan diri, sadar secara sosial emosional dalam memberikan keputusan-keputusan pembelajaran. Menyelesaikan berbagai permasalahan yang menyangkut murid, rekan sejawat bahkan permasalahan di tingkat instansi sekolah. Jika seorang guru meyakini filosofi pratap triloka, tentu saja dalam pengambilan keputusan akan memperhatikan muridnya. Keputusan yang berpihak pada murid. 

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan? Nilai- nilai kebajikan yang sudah tertanam pada diri kita tentu saja akan sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan. Nilai - nilai yang sudah tertanam akan menjadi karakter yang tidak bisa lepas begitu saja. Apa yang diyakini benar pasti akan dilakukan dan apa yang diyakini salah pasti sebisa mungkin untuk dihindari. Nilai inilah nantinya yang akan menunjukkan kualitas seseorang dalam pengambilan keputusan. Jika ia tidak jujur, tentu saja jika mendapat masalah dilema etika yang mengharuskan memilih antara uang dan kepentingan murid. Ia akan memilih uang yang dapat memperkaya diri.

3. Bagaimana  kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan "coaching" (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputisan yang telah kita ambil. Apakah pegambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan - pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? materi pengambilan keputusan tentunya berkaitan dengan coaching. Sebagai pemimpin pembelajaran yang baik, kita harus mampu menjadi pendengar aktif dan juga mampu berkomunikasi asertif. Dalam memandang suatu permasalahan yang melibatkan 2 subjek atau 2 nilai yang membutuhkan identifikasi, tentu saja kita harus mencermati fakta-fakta akan masalah tersebut. Coaching dilakukan sebagai langkah awal identifikasi dari pihak-pihak terkait. Melihat respon dari pihak terlibat apakah nantinya bisa bertanggung jawab atas komitmennya, dan inilah salah satu alasan sebagai bahan pengambilan keputusan. Apakah akan ada pertanyaan dalam diri? Apakah sudah membuat keputusan yang efektif. Hal ini memang perlu juga, untuk menimbang kembali 9 langkah yang telah kita lakukan. Apakah sudah efektif dan bisa memberikan manfaat yang positif dari hasil keputusan tersebut.

4.Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan? Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional tentu saja berpengaruh. Keadaan yang mindfulness dan mampu mengendalikan diri (emosi) saat menghadapi suatu masalah akan membawa kita pada pikiran jernih, neokortekslah yang bekerja, dan hukan otak limbiks yang hanya mementingkan perasaan dan bukan logika seperti halnya neokorteks. Mampu membaca emosi dan mengidentifikasinya dengan roda emosi pada orang-orang yang terlibat , sikap dan mimik saat komunikasi, pembawaan tenang akan mempermudah dalam identifikasi masalah serta pengumpulan fakta. Jika berfikir dengan kepala dingin tentu saja akan membantu kita untuk memutuskan suatu masalah dan mengarahkan kita pada nilai-nilai kebajikan yang kita yakini. 

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali pada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? Pada hakikatnya ketika seseorang akan mengambil keputusan, arah atau kendali akan pada nilai-nilai yang dianut. Selaksa sebuah kapal, seorang kapten kapal akan menentukan arah dan kendali kapal saat badai menerjang. Hal ini tentunya kembali pada pengalaman dan pribadi/karakter sang kapten sendiri. Karakter ini sendiri terbentuk karena ada pengaruh dari faktor dalam (intrinsik) dan (luar) ekstrinsik seperti yang digambarkan dalam diagram gunung es. Di dalam diri manusia ibaratnya terdapat kotak hitam yang berisi nilai-nilai, kepercayaan, pola pikir dan soft-skills yang kesemuanya mendasari bagaimana seseorang berperilaku.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif , kondusif, aman dan nyaman? Pengambilan keputusan yang tepat akan membuat nyaman berbagai pihak dari penyelesaian suatu masalah. Tentunya hal ini akan membuat iklim kerja menjadi harmonis, saling menghormati dan menghargai. Keputusan yang berpihak pada murid akan membawa suasana pembelajaran yang well being pada anak yang baik bagi tumbuh kembangnya. Mendukung dan mendorong mereka untuk menggali potensi yang dimiliki, mengembangkan karakter positif serta membangun hard-skills dan soft-skills.

7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda? iya benar, kesulitan yang saya alami dalam kasus dilema etika ini karena masalah perubahan paradigma baru. Masih ada rekan sejawat yang menentang hal tersebut dan masih berpola pikir paradigma lama. Menganggap paradigma lama lebih baik dari paradigma baru.

8. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Seperti dilansir dari GTK Kemdikbud, Menteri Nadiem Makarim menyampaikan bahwa merdeka belajar artinya unit pendidikan yaitu sekolah, guru-guru dan muridnya punya kebebasan untuk berinovasi dan bertindak dalam proses belajar. Pembelajaran berpihak pada murid dengan menggunakan student centered. hal ini tentu saja selaras dengan peran guru penggerak yang mana berperan sebagai pemimpin pembelajaran,mengembangkan diri dan orang lain, memimpin manajemen sekolah serta memimpin pengembangan sekolah. Pengambilan keputusan yang dilakukan dengan mindfulness, berpedoman pada pratap trilogi Ki Hajar Dewantoro dan nilai-nilai kebajikan akan mendorong pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, yaitu keputusan yang memerdekakan murid.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? Keputusan yang diambil saat ini akan berpengaruh bagi kehidupan  murid kedepannya. Ketika memilih membiarkan salah seorang murid menyontek agar ia diterima di SMP favorit. Maka berarti secara tidak sengaja kita mengamini tindakan curang, tidak jujur. Bisa saja, murid tersebut akan melakukan hal yang sama saat naik di jenjang berikutnya dan karakter tidak jujur ini akan terbawa saat ia memasuki usia kerja. Jika ia menjadi pejabat, bisa jadi ia akan korupsi. Naadzubillahimindzalik. Maka, keputusan yang kita ambil akan berpengaruh bagi kehidupannya ke depan. Oleh karena itu pengambilan keputusan tidak bisa dilakukan secara asal, paling tidak harus melewati tahapan-tahapan sebagai berikut :

  • Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
  •  Menentukan siapa saja yang terlibat
  • Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan 
  • Pengujian benar atau salah yang didalamnya terdapat uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, uji keputusan panutan/idola
  • Pengujian paradigma benar lawan benar
  • Prinsip Pengambilan Keputusan
  • Investigasi Opsi Trilemma
  • Buat Keputusan
  • Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Sebagai seorang guru penggerak yang berperan sebagai pemimpin pembelajaran,mengembangkan diri dan orang lain, memimpin manajemen sekolah serta memimpin pengembangan sekolah. Tentu saja akan bergelut dengan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang sudah ada dalam diri seseorang, kemampuan dalam sosial emosional, dan termasuk ketrampilan dalam coaching (komunikasi asertif, kemampuan menggali pertanyaan, dan pendengar yang baik). Sebagai seorang pendidik, guru harus memiliki keterampilan pengambilan keputusan yang baik. Kaitannya dalam lingkup sekolah terutama sebagai pemimpin pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas, guru dalam mengambil keputusan hendaknya memerdekakan murid-muridnya. Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang tepat yaitu pengambilan keputusan berbasis pratap trilogi Ki Hajar (ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani), etika, sesuai visi misi berpihak pada murid, budaya positif serta nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah institusi sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan akan jelas yang mewujudkan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being) sehingga bakat dan potensi dalam diri siswa bisa tercapai secara optimal hingga tercipta profil pelajar pancasila.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Buadaya Positif di SD negeri 1 Sonoageng Kabupaten Nganjuk